“Sungguh suatu hal yang sangat aneh, jika Anda mengetahui-Nya kemudian tidak mencintai-Nya, atau mendengar panggilan-Nya kemudian tidak memenuhi-Nya, mengetahui betapa besar keuntungan berinteraksi dengan-Nya lalu berinteraksi dengan selain-Nya, mengetahui betapa besar murka-Nya kemudian membelakangi-Nya, dan lebih aneh lagi bila Anda yakin bahwa Anda membutuhkan-Nya kemudian berpaling dari-Nya.” Quraish Shihab (via kuntawiaji)

Ngeteh sore-sore sambil dengerin musik? Why not?
Akan hadir bulan ini di Arboretum Unpad Jatinangor.
Nyantay yuk kek di pantai~


Mana yang Lebih Bahaya, Galau atau Badmood?

Jaman sekarang emang lagi ngebooming banget yang namanya galau. Awalnya, kata galau yang sedang tren di kalangan remaja itu identik dengan hal-hal yang berbau percintaan picisan antara cowok dengan cewek.

Contoh:

"Galau banget, gebetan gue jadian sama orang lain."

"Galau banget, gak bisa move on dari mantan."

Makin sekarang, kata galau itu pun semakin bisa dipakai untuk aspek apapun.

Contoh:

"Galau nih, seharian belum makan."

"Galau euy, gak punya uang tapi utang banyak."

Coba kalau kita bandingkan sama badmood. Badmood adalah sikap manusia, dimana manusia tersebut sedang tidakĀ mood atau tidak berhasrat untuk melakukan apapun. Biasanya, di kalangan cewek, badmood menyerang waktu lagi mens. Iya gak?

Pertanyaannya adalah: mana yang lebih berbahaya, galau atau badmood?

Read More


“Ada orang bilang, carilah waktu untuk do nothing karena itu sehat untuk pikiran, badan, dan emosi kita. Jadi, cuek ajalah sama orang yang bilang, “Makanya, baca koran, dong!”” Wimar Witoelar dalam More About Nothing (2009:6)

F(unny)alling in Love

Bapak kamu tukang korek kuping ya? | Kok tahu? | Soalnya kamu kepo banget. Doyan ngorek-ngorek masa lalu orang.
Cie gitu, masa lalu.

Lucu banget deh, setelah nyaris satu tahun melupakan, tiba-tiba saya terpaksa menceritakan masa lalu saya ke orang lain. Kocak banget emang bocah-bocah jurnal tuh, semacam mengadakan konferensi pers cinta gitu buat orang-yang-kelihatannya-nggak-into-romance kayak saya.

Ketika saya menceritakannya, kalau dipikir-pikir, geli juga. Geli banget saya pernah kayak gitu. Geli banget. Kayak yang… ih ngapain sih dulu kayak gitu? Semacam perasaan kayak gitulah.

I know, semua orang pasti pernah jatuh suka sama orang lain. Meksipun belum ke tahap cinta, minimal pernah tertarik gitulah. Termasuk saya. Dan saya cuma geli aja mengingat di masa lalu, betapa geuleuhnya saya yang lagi jatuh cinta. Ya mantengin hp lah, ya ngarepin telpon lah, ya susulumputan main ke luar malem-malem lah, ya bangun pagi buat bikinin sarapan lah, ya pokoknya agak membuat geli deh.

Terus saya memutar lebih jauh, ke masa ABG, mungkin. Dulu kayak yang iyuh banget gitu. Masa kecil juga (setelah baca diary SD). Ada perasaan kayak gini: kok aing gini banget sih pas jaman dulu? Geli ya Allah.

Tapi nggak apa-apa sih. Toh semuanya tinggal jadi kenangan dan pelajaran. Kalau diinget, ya… lumayan lah buat lucu-lucuan. Lumayan juga buat refleksi diri.

Sekarang pun saya suka ngerasa jatuh suka. Wajar lah, orang saya bukan lesbi. Tapi saya pun akhirnya menyadari… saya yang sekarang beda banget sama saya dua sampai lima tahun yang lalu. Dalam hal jatuh cinta, maksudnya. Sekarang, saya lebih suka jatuh cinta diam-diam

Heup. Nggak gitu juga. Lebih geli itu mah.

Saya lebih suka mengikuti gaya hidup temen-temen gaul saya yang sekarang, yang membuat dinasti Oppa untuk dijadikan bercandaan. Semisal, kita tertarik sama seseorang, langsung aja menjadikan bercandaan kalau orang itu adalah Oppa kita. Kalau besoknya tertarik orang lain, jadilah orang itu sebagai Oppa kedua. Begitu pula dengan kemunculan Oppa ketiga, keempat, dan yang lainnya. Dinasti Oppa.

Yah… seenggaknya dengan dibuatnya dinasti Oppa, yang sehari-harinya jadi bahan bercandaan, saya jadi nggak beneran suka sama orang.

Kapan suka benerannya, ya?

Kapan-kapan deh.


“Salah satu rasa yang paling aneh adalah kehilangan. Ia menyeruak sesak di awal, hilang ditelan zaman. Jika diingat kembali, keanehan itu menjadi tinggal kenangan. Kenangan bahwa kau pernah kehilangan.” Me

Need A Tea Time?


“Cinta diukur pada saat terjadi dua kepentingan yang berbeda. Ketika itu, kepentingan apa dan atau siapa yang dipilih, itulah objek yang lebih dicintai. Ketika terdengar suara adzan, misalnya.” (via kuntawiaji)

Page 1 of 59
Design by Craig Snedeker