Maaf Telah Menjadi Calon Jurnalis

Maafkan aku, calon jurnalis

Yang mungkin saja memakan jatah kursimu di sini

Kamu, iya, kamu, yang benar-benar ingin menempatinya

Maafkan aku, ya, calon jurnalis

Aku bisa saja pernah mengambil salah satu obsesi terbesarmu

Salah satu tempat impiannya pemimpi-pemimpi kampus biru

Maafkan aku, jurnalis

Aku, yang tertarik menggeluti profesimu hanya untuk kujadikan jalan mempelajari manusia dengan kisah-kisah hidup mereka

Aku, yang tertarik mempelajari cara-caramu hanya untuk kujadikan bahan membuat cerita-cerita tak terterka

Aku, yang berwajah datar ketika melihat nama teman dipajang sebagai pemberita atau pengisi kolom opini di koran.

Bandingkan dengan wajahku saat melihat nama orang yang kukenal dimuat sebagai penulis cerpen media massa ternama, atau novelnya tiba-tiba sudah diterbitkan dan menghias di toko buku sudut kota.

Bandingkan pula dengan wajahku saat menonton salah satu part yang paling kusuka dari sebuah film : credit title. Lihatlah ekspresi keingintahuanku yang dalam; ‘kenapa sih cerita sekeren ini bisa divisualisasikan?’

Coba bandingkan. Siapapun pasti sudah bisa menebak : di mana letak diriku sesungguhnya.

Aku… benar-benar minta maaf.

Aku, yang saat ini masih menyandang label :

"Calon Jurnalis"


“Suatu hari nanti, akan ada seseorang yang cukup sopan untuk mengetuk pintu hatimu. Perkara kamu mengijinkannya masuk atau tidak, sepenuhnya hakmu.”

kurniawangunadi

(via kurniawangunadi)

:’))))

(via noviany)


Suka nonton film festival?Mau bikin film biar masuk festival? Bingung cari idenya?

Cinematography Club Fikom Unpad mempersembahkan
DISKUSI FILM FESTIVAL Rabu, 15 Oktober 2014
Bale Santika, Unpad Jatinangor
HTM: hanya 5rb

Diskusi akan dihadiri oleh sineas:
-Ninndi Raras (Gula-gula Usia)
-Senoaji Julius (2B & Gazebo)
-Tunggul Banjaransari (Liburan Keluarga & Udhar)

Kapan lagi ngobrol sama sineas hebat! Yuk ikutan


0260 - 414033

Ada satu benda yang kurindukan. Kau tahu apa? Telepon rumah. Apakah itu terdengar aneh? Tidak kok, aku benar-benar sedang merindukan telepon rumah. Sebuah pesawat telepon dengan nomor 0260 – 414033.

Tujuh tahun yang lalu, aku punya ponsel berkamera pertama yang sangat kubanggakan. Kalau cuaca sedang hujan, kupijit 0260-414033 melalui ponselku.

Lalu, suara di seberang sana mengkhawatirkanku,

“Halo?” tanya seseorang.

“Teteh di depan, nggak bawa payung. Jemput, dong.”

Kemudian seorang lelaki dengan romantisnya membawa sebuah payung, dan kami berdua pulang menuju sebuah rumah penuh kenangan.

Tujuh tahun lalu, aku sangat bangga dengan pesawat telepon bernomor 0260-414033. Sudah berkali-kali dia ganti badan, tentu saja dengan teknologi yang berganti-ganti pula. Aku masih ingat betul ketika 0260-414033 bisa mengirim pesan singkat alias SMS. Bangga sekali rasanya, punya nomor telepon rumah yang bisa mengirim pesan singkat.

Maka, kutulis saja “Cek” melalui telepon rumah tersebut, lalu kukirim ke nomor ponselku, ponsel ibuku, dan ponsel ayahku.

“Ada apa, Teh?” balas orang tuaku.

“Cuma ngecek aja,” jawabku.

Tujuh tahun lalu, aku punya kisah lucu dengan pesawat telepon bernomor 0260-414033. Ada orang salah sambung yang menelepon ke nomor itu, dan dia pikir bahwa nomor itu adalah milik sebuah stasiun radio.

“Boleh request lagu lagi? Lagu yang tadi saya request udah diputer belum?” tanya orang salah sambung itu.

“Udah tadi, Mas. Sok boleh request lagi,” ujarku dengan polosnya.

Tujuh tahun lalu, 0260-414033 adalah pusat komunikasiku selain ponsel. Yah, kau tahulah, dulu pulsa menelepon lewat ponsel mahal sekali. Selain itu, berkomunikasi lewat sesama telepon rumah memang lebih murah. Maka, 0260-414033 menjadi pusat komunikasiku dengan teman-teman SD.

Barusan, kucoba hubungi lagi 0260-414033.

Nyambung.

Entah sudah jadi milik siapa sekarang. Mungkin nomornya ada yang beli.

Tuuut… tuuut…

Dua kali kutelepon, tapi tidak kunjung ada yang mengangkat.

Tuut… tuut…

Ya Allah, ampuni aku.

Aku sama sekali tidak berharap mendengar suara mereka mengangkat teleponku lagi.

Sudah sejak lama, aku sudah tidak lagi meratapi mereka berdua. Mereka, yang telah menemaniku hidup bersama dua belas tahun lamanya, hingga pada akhirnya aku tinggal bersama kedua orang tuaku gara-gara ingin menyembuhkan sakitnya kehilangan.

Padahal, yang seharusnya lebih sakit adalah orang tuaku. Mereka telah kehilangan orang tuanya.

Ya  Rabb, maksud dari telepon isengku tadi adalah… aku hanya separuh iseng.

Dan separuhnya lagi : rindu.

image


“Tahu nggak kenapa sosok hantu atau setan kebanyakan perempuan? Karena perempuan itu makhluk paling indah di dunia. Kalau dibikin jelek, jatohnya jadi serem dan bikin takut.” My Dad, abis ngomongin Tiang Ting

Pulang Kampung Rasa Tur Malam

Suasana Idul Adha bikin saya dan teman-teman sekampus saya berhasrat untuk balik. Lebaran di rumah gitu, loh.

Saya juga pulang kampung ke Subang. Rencananya awalnya sih, abis kelas jam 12.30 (kebetulan hari ini kuliah kelar lebih cepat) bakal langsung pulang ke rumah. Namun, karena ada rapat UKM Pers Kampus, akhirnya saya tunda kepulangan saya sampai jam 18.30.

Dan kepulangan yang tertunda itu membuat saya ngeri sekaligus bersyukur.

Di Cijambe, Kabupaten Subang, sekitar pukul 16.00, terjadi kecelakaan yang diakibatkan oleh rem bocor dari sebuah truk pengangkut aspal. Kecelakaan tersebut bikin macet jalanan dari Bandung menuju Subang. Kecelakaan itu bikin aspal yang dibawa truk amburadul keluar dan menghujani dua motor serta sebuah mobil angkot. Aspal yang panas tersebut memakan korban nyawa, dan saya bener-bener ngeri sambil bergidik mendengarnya.

Lalu saya membayangkan, seandainya saya langsung pulang begitu kelas selesai. Perjalanan Jatinangor – Subang normalnya punya waktu tempuh tiga sampai empat jam. Kalau saya berangkat dari Jatinangor pukul 12.30, mungkin saya akan tiba di Subang pukul 16.30, tetapi sebelumnya harus melewati Cijambe terlebih dahulu. Ada kemungkinan saya melewati Cijambe pada pukul 16.00. Hm, entah gimana jadinya. Syukurlah, saya nggak jadi pulang lebih awal.

Karena mobil umum yang saya naiki turut kena imbas kemacetan, sang sopir pun cari akal. Mengikuti saran polisi yang bertugas di sana, akhirnya sopir pun memutuskan untuk melalui jalur alternatif yaitu melewati hutan buah naga.

“Pak, moal bisa jalan nepi subuh ge. Hayu milu weh liwat Kumpay, ka naga!” ujar si bapak sopir kepada pengemudi-pengemudi lain yang artinya Pak, sampai subuh pun nggak akan bisa jalan. Ayok ikut saya lewat Kumpay, lewat Kebun Naga!

Alhasil, mobil kami dan beberapa mobil lainnya pun melewati jalur alternatif yang disarankan Pak Polisi.

Awalnya saya nggak terlalu menghiraukan kata-kata si sopir yang bilang kalau kami bakal melewati hutan belantara. Saya pikir, ya mungkin hanya pohon-pohon tinggi seperti yang biasa saya lihat di sepanjang jalanan Jalan Cagak. Eh… ternyata saya salah. Yang kami lewati saat itu benar-benar hutan belantara. Sepi sekali, gelap, pohonnya banyak, bahkan saya sempat melihat kelinci lewat.

Jalur alternatif itu pun berasa jadi lokasi tur malam bagi kami, dan sang sopirlah yang menjadi tour guidenya. Bukan hanya jadi pemandu bagi para penumpangnya, tapi dia juga jadi pemandu bagi mobil-mobil lain yang mengikuti kami.

Sepanjang perjalanan, Pak Sopir banyak bercerita. Dia bercerita tentang tanaman-tanaman yang ada di sepanjang perjalanan, menceritakan monyet dan babi hutan yang kemungkinan bisa keluar kapan saja, menceritakan kalau tempat itu dulu pernah disita KPK, menceritakan begal-begal (penjahat macam geng motor) yang suka nongkrong di sana, bahkan menceritakan kuntilanak yang bikin penumpang ibu-ibu menjerit ketakutan.

Sumpah, perjalanan melewati hutan buah naga malam itu jadi kayak tur dadakan!

Saya bersyukur mobil kami dikemudikan oleh Pak Sopir (saya lupa menanyakan namanya). Dia baik banget. Karena takut mobil-mobil lain nyasar, sesekali kami diam sejenak dan menunggu. Sambil menunggu, Pak Sopir sesekali menggoda kami untuk mencairkan suasana.

“Pek siah tingali ka kanan, aya kunti siah!” ujar Pak Sopir yang artinya Hayoloh lihat ke kanan, ada kuntilanak hayoloooh. Nyebelin sih emang, tapi lucu.

Dan yang paling berkesan selama perjalanan adalah ketika kami tiba tepat di samping pohon-pohon buah naga. Banyak lampu yang menerangi buah-buah naga tersebut. Lucu aja gitu pemandangannya.

Setelah kira-kira dua jam lamanya kami mendaki gunung Kumpay dan melewati lembah (anjayy lebay pisan), akhirnya kami pun keluar dari hutan dan kembali memasuki jalur jalan raya. Guess what, jalanannya sepiiii banget. So pasti gara-gara mobilnya pada macet di belakang semua.

Akhirnya, pukul 00.30, kami tiba di tengah-tengah kota Subang, tepatnya Pujasera Subang. Pas saya nyampe rumah, ibu saya sedikit ngambek dan bertanya, “Kenapa pulangnya nggak besok aja? Bikin khawatir.”

Tapi, di dalam hati, saya punya pikiran lain. Kalau saya pulangnya besok, mungkin saya nggak akan tahu hutan yang pernah disita KPK itu. Mungkin saya nggak bakal melewati tur malam. Mungkin suasana pulang bakal flat-flat aja.

Berita selengkapnya mengenai kecelakaan terkait baca di tintahijau.com


Hal Sederhana

Ini malam, dan aku masih merenungkan sesuatu hal yang terlihat simpel bagi sebagian orang. Mungkin bisa juga simpel bagi diriku pada sebagian waktu, tapi bukan sekarang.

Bingung, iya. Ada rasa kesal yang tidak bisa kulawan, yang kalah karena rasa sayang. Kalaupun masih kesal, mungkin aku kesal pada keegoisanku sendiri.

Ini hal sederhana, yang semua orang mungkin saja mengalaminya.

Ini hal sederhana, yang bisa jadi sangat sepele bagi sebagian orang.

Ada hal yang harus dikorbankan. Ada semangat yang harus dikobarkan. Dan ada hati, yang harus digali lebih dalam.

Ini hal sederhana,

dan aku sedang berusaha sesederhana mungkin menghadapinya.

Sesederhana keinginanku membuat bangga dan bahagia mereka berdua yang membahagiakanku.


Yang Tertunda

Aku sedang enggan berpuisi

Sama seperti Dia yang enggan mempertemukan dalam naluri

Puisi yang segala katanya terpintal rapi

Sebab tidak lagi kumiliki kemampuan menjahit itu

Pada akhirnya, cuma sampai di bahan setengah jadi.

Oh iya,

Aku sedang enggan bertemu

Tukang bikin puisi

Atau tukang baca puisi

Apalagi,

sosok yang menyemburatkan imaji untuk kubuat jadi puisi

Lah, benar kan?

Sepertinya Tuhan memang sengaja menunda pertemuan kami


Page 1 of 60
Design by Craig Snedeker