Pertemuan Dua Tangan

Setiap manusia pasti punya keinginan untuk menjadi lebih baik.

Lebih baik dalam prestasi, lebih baik dalam merawat diri, lebih baik dalam memahami, dan lebih baik dalam mencintai.

Ada satu tahap yang ingin kulalui, dan menurutku hal ini sedikit sulit. Dan semua itu berawal dari hal kecil : pertemuan dua tangan.

Ah, aku hanya mencoba menarik perhatian Dia saja. Semoga berhasil.


“Nggak diminta juga, setiap saat Ibu pasti selalu memohon do’a sama Allah untuk Teteh dan keluarga. Moga Allah mengabulkan do’a kita semua, amin. Semangat terus, perjuangkan apa yang Teteh cita-citakan.” My Mom. Gimana nggak melting coba, baca SMS beginian malem-malem.

Passion?

Dulu aku sempat berpikir, passionku mungkin menulis. Ya, aku suka membaca, dan aku suka menulis. Semakin lama, aku semakin menyadari bahwa jenis tulisan itu ada banyak. Sebuah kalimat “Aku Ingin Menjadi Penulis” bisa memiliki banyak makna. Penulis apa? Fiksi atau nonfiksi? Bentuk tulisan seperti apa? Novel, artikel, cerpen, berita, esai, atau apa?
Aku sempat bingung dengan kalimat yang awalnya kukira merupakan passionku itu. Nyatanya, “Aku Ingin Menjadi Penulis” menjadi sangat bercabang setelah aku ketahui bahwa ‘penulis’ memiliki banyak bidang untuk ditekuni. Penulis cerpen disebut cerpenis. Penulis novel disebut novelis. Penulis esai disebut esais. Penulis artikel atau berita disebut jurnalis. Penulis naskah iklan disebut copywriter. Penulis naskah film disebut scriptwriter. Dan aku? Ingin menjadi penulis yang manakah diriku?
Kebingungan itu membawaku pada sebuah titik terang. Titik terang yang pada akhirnya menjawab passion apa yang sebenarnya kumiliki. Passion apa yang sebenarnya ingin selalu kujadikan acuan untuk mengejar mimpi-mimpiku. Passion apa yang sebenarnya membuatku percaya bahwa ‘jurnalistik’ adalah jurusan yang tepat untukku.

Passion itu adalah : cerita.

Aku memilih cerita sebagai passion hidupku. Jurusan jurnalistik bisa melahirkan banyak pencerita, aku percaya itu. Lewat kegiatan jurnalistik, seseorang bisa mendapatkan berbagai cerita ‘nyata’ yang menarik untuk diangkat ke khalayak. Menulis novel bisa melahirkan sebuah cerita ‘fiksi’ utuh yang dinikmati para pembacanya. Menulis skenario film bisa melahirkan sebuah karya film yang begitu menarik untuk ditonton.

Satu passion, dan saling berkaitan. Lewat jurnalistik, aku ingin belajar mengenal realita dan berbagai cerita unik yang ada di dalamnya. Lewat cerita nyata yang kudapatkan, aku ingin membuat sebuah cerita fiksi yang dibaca banyak orang. Lewat cerita fiksi yang kubuat, aku ingin membuat tayangan visual (film) yang memanjakan mata banyak orang.

Mencari tahu apa passion diri sendiri itu ternyata simpel, ya. Tidak usah dicari, kita pasti akan mengerti sendiri. Dan saat kita sudah tahu passion apa yang kita miliki, kita pasti akan terus memeluknya erat, kemudian tersadar betapa kita menyayanginya. Menyayangi passion berarti menyayangi diri sendiri, merawatnya baik-baik dan membantunya terus tumbuh dan berkembang seperti anak manusia.


Enam Alasan Mengapa Remaja Indonesia Menggemari Drama Korea

Beberapa remaja, terutama remaja cewek, doyan banget nonton drama Korea. Meskipun masih ada beberapa remaja yang suka nonton sinetron Indonesia, tapi tetep aja yang lebih kental sama selera mereka itu ya drama Korea. K-Drama.

Nggak sedikit remaja Indonesia yang bahkan menghina sinetron buatan negara sendiri, membanding-bandingkannya dengan beberapa drama Korea, dan akhirnya langsung memaki dan kesal begitu tahu ada sinetron yang menjiplak drama Korea.

Sebenarnya kenapa sih drama Korea banyak diminati cewek-cewek? Kenapa sih banyak remaja yang sebegitu ngefansnya sama drama Korea?

Menurut pengamatan saya, ada beberapa alasan yang membuat drama Korea lebih menarik untuk ditonton dibandingkan sinetron Indonesia.

Read More


Kabar gembira untuk kita semua, info lengkap belajar nulis bareng Raditya Dika kini sudah bukan ekstraknya!


Bagi-Bagi THR

  • My Mom : Fawwaz, nih THRnya. Mau sepuluh ribuan dua, atau dua puluh ribu satu?
  • My Cousin : Dua puluh ribuan dua! *spontan, tanpa basa-basi*

Mengapa Aku Tidak MeninggalkanMu?

Bertahan atau tidak terhadap sesuatu yang diyakini oleh hati, itu pilihan.

Termasuk meninggalkanMu atau tidak, itu juga pilihan.

Aku tidak berada di dunia yang semuanya mempertahankan Kamu. Aku berada di dunia yang sebagiannya memilih untuk meninggalkanMu. Tidak usah jauh-jauh berpikir, teman-teman dekatku, orang yang aku kenal, orang yang aku tahu, beberapa dari mereka sudah memilih untuk pergi dariMu.

Kadangkala ada rasa  resah dalam diriku, mengapa mereka memilih untuk meninggalkanMu? Ada apa denganMu? Apa yang membuat mereka ragu kepadaMu?

Mungkin,

mereka ragu akan apa yang Kamu janjikan.

Mungkin,

mereka ragu dengan alasan dari apa yang Kamu perintahkan.

Mungkin,

mereka ragu meninggalkan kebahagiaan sesaat yang Kamu larang.

Dan aku? Mengapa aku memilih untuk tidak meninggalkanMu?

Apakah aku sepenuhnya yakin kalau semua yang Kautuliskan tanpa perlihatkan itu ada?

Tidak juga. Terkadang, rasa ragu itu bisa saja muncul.

Tapi… ada satu hal yang membuatku tidak meninggalkanMu.

Anehnya, mungkin inilah yang disebut cinta. Atau rasa terima kasih yang klasik karena telah meniupkan ruh pada ragaku dan membuatku hidup. Atau rasa terima kasih yang klasik karena aku bisa merasakan sedih juga bahagia. Atau rasa terima kasih yang klasik karena aku bisa merasakan orang lain yang mencinta. Atau rasa terima kasih yang klasik karena aku bisa merasakan lapar dan kenyang. Atau rasa terima kasih yang klasik karena aku punya dubur untuk membuang kotoran di perutku.

Dan itu semua dari Kamu.

Wajar dong kalau aku mencintai Kamu?

Wajar dong kalau aku enggan meninggalkan Kamu?

Wajar dong kalau aku turuti perintah Kamu dan berusaha menjauhi apa yang Kamu larang?

Wajar dong kalau aku mau Kamu lebih mencintai aku?

Lalu, yang aku ingin tanyakan juga adalah,

wajarkah kalau mereka meninggalkan Kamu?


Yuk dilirik, ada produk kece karya  mahasiswa Fikom Unpad!

READY STOCK T-SHIRT FIKOM UNPAD

Available Size : S, M, L, XL

IDR : Rp 80.000,-
SMS (order only) : 081295465450 (Razny)
dengan format:
NAMA_KODE KAOS_UKURAN_JUMLAH
Ask for further information:
Facebook: Fution Project
Twitter: @futionproject
Don’t think, your time is now!


Page 1 of 58
Design by Craig Snedeker